Ngantor, Iya, Ngantor Pos yang Absurd

Ini adalah tulisan kedua di blog yang telah lama saya terlantarkan ini. Begini, Selasa lalu, saya ngantor, maksudnya ke Kantor Pos di daerah saya tinggal. Sebelumnya, tidak ada yang absurd, hanya sedikit mendung yang kemudian diikuti gerimis saat saya mulai menarik gas kuda besi berlabel Honda ini. Kacamata saya mulai buram, menandakan bahwa kaca helm ini minta diturunkan.

Hanya gerimis di pagi hari, saya terus melaju, melewati aspal berkelas menengah, sampai kelas yang lebih tinggi dari menengah. Tiba di Kantor Pos hampir setengah sepuluh, parkiran sudah lumayan riuh dengan kendaraan para pengantor pos, untung masih ada tempat untuk kuda besi yang saya bawa.

Logo Pos Indonesia

Mungkin Anda bertanya-tanya, untuk apa saya nekat bergerimis ria ke Kantor Pos. Begini, beberapa hari sebelum hari Selasa lalu, saya mendapat email dari Simbah di California, Amerika, yang memberitahukan bahwa kiriman siap diambil. Nah, kiriman itu bisa diambil di Kantor Pos, begitulah kira-kira.

Kurang sesuai dengan keriuhan kendaraan di tempat parkir, di dalam kantor pos ternyata sepi, hampir tidak ada suara selain petugasnya, tapi banyak juga pengantornya yang sibuk menunggu atau bermain ponsel sambil diam seribu bahasa.

Saya memilih langsung ke petugas untuk menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan, lalu petugas tersebut mempersilakan saya duduk. Tidak beberapa lama, datang seorang bapak bersama anak perempuannya yang (kira-kira) berumur 4 tahunan. Sang Bapak yang menggandeng tangan anaknya tersebut juga langsung menuju petugas yang sedang terlihat sibuk. Tiba-tiba saja, sang anak berusaha melepaskan tangannya dari gandengan Sang Bapak.

Bapaknya langsung menoleh ke bawah dan bertanya, Ada apa, nak? tanpa jawaban yang pasti, sang anak lalu berlari menuju pintu keluar Kantor Pos. Di depan pintu tersebut, sang anak dengan cekatan melepas sepasang sepatunya dan meletakkannya tepat di atas keset selamat datang. Lalu dengan setengah berlari, sang anak masuk kembali ke dalam kantor, bertelanjang kaki tentunya, menghampiri bapaknya. Oh, iya iya, saya menangkap apa yang sedang terjadi. Sang Bapak kemudian berkata, Tidak apa-apa, nak, dipakai saja, namun sang anak tetap teguh bertelanjang kaki di atas lantai Kantor Pos yang berkeramik putih tersebut. Absurd? menurut saya begitu.

Sang anak sepertinya merasa bersalah mengenakan alas kaki di atas lantai keramik yang bersih, mengingat sebuah kebiasaan "lepas alas kaki" yang telah membudaya di daerah ini (dan juga daerah Anda pastinya, di Indonesia tepatnya). Pada umumnya, kebiasaan (dan keharusan) lepas alas kaki dilakukan di tempat-tempat ibadah (masjid, surau, langgar, dsb) dan rumah-rumah yang memang berlantai bersih.

Selain di Indonesia, di Jepang, lepas alas kaki merupakan etika yang harus dipatuhi saat bertamu, karena lantai rumah mereka terbuat dari tikar rumput (Tatami). Bedanya, di Jepang, tuan rumah biasanya menyiapkan sandal khusus untuk digunakan di dalam rumah.

Kalau di tempat-tempat pelayanan umum, seperti Kantor Pos, pusat perbelanjaan, dsb kebiasaan tersebut memang tidak berlaku, dan sangat aneh bila diterapkan.

Kembali lagi ke sang anak yang masih polos tersebut, yang memang patut diacungi jempol bila dibandingkan dengan sebayanya yang masih suka mengenakan sepatu sesukanya. Meskipun masih kecil, kebiasaan baik yang mengakar itu lebih baik dari pemakluman yang sering kita dengar; "namanya juga anak kecil".

Oke, kiriman sudah ditangan, di dompet tepatnya, saatnya kembali ke markas. Melangkahlah saya ke parkiran, yang kemudian diikuti langkah petugas parkir. Saya serahkan apa yang harus saya serahkan, sang petugas lalu menyingkap tabir yang menutupi punggung kuda besi yang saya bawa tadi.

Dari arah gerbang masuk Kantor Pos, datanglah ibu-ibu setengah baya mengendarai motor bebeknya. Petugas parkir pun segera bereaksi dengan meminta ibu-ibu tersebut untuk memarkir motor bebeknya di tempat parkir yang agak masuk ke dalam. Tak disangka ibu-ibu tersebut berhenti tepat di depan petugas parkir dan berbicara dalam bahasa Jawa, Masa ra enek nggon sing cedak to Mas? tak ambung lho kowe ngko! yang artinya kurang lebih seperti ini, Masa tak ada tempat (parkir) yang dekat, Mas? Aku cium lho kamu nanti! Sontak saja saya tertawa (dalam hati) sambil berlalu pergi menuju ke markas. Benar-benar Ngantor Pos yang absurd.



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑