Bahasa? Apalah Itu

Bahasa, iya, bahasa, sebuah kata yang sering digunakan untuk memulai sebuah bahasan panjang yang tentu saja yang membahas masalah bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, pernahkah persoalan bahasa menjadi begitu penting? Hingga serius untuk dibahas lebih lanjut? Bahasa seringkali hanya dianggap sebuah alat untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam pikiran dan perasaan (hanya alat, tidak lebih). Bahasa hanya perantara dari apa yang dimaksud oleh pemakai bahasa, pakai dan lupakan. Tata cara, tata bahasa, dan sebagainya sepertinya tidak terlalu penting lagi ketika suatu maksud telah tersampaikan. Betapa menyedihkannya perlakuan terhadap bahasa dewasa ini.

Memang suatu kenyataan bahwa bahasa wajar dimiliki oleh setiap manusia. Dan kewajaran ini mungkin menyebabkan bahasa dianggap sebagai barang sehari-hari yang biasa saja, sehingga tidak perlu mendapat perhatian yang selayaknya sesuai dengan fungsinya di dalam masyarakat. Di sisi lain, tanpa adanya bahasa, apakah kebudayaan dapat diwariskan nenek moyang kepada anak cucunya? Apakah ada ilmu pengetahuan yang disampaikan dan dikembangkan tanpa menggunakan bahasa? Mungkinkah pendidikan dilakukan tanpa pemakaian bahasa? Dan dengan (sedikit) terpaksa kita jawab tiap pertanyaan tersebut dengan kata TIDAK, walaupun begitu masyarakat tidak akan terlalu merepotkan dirinya dengan berbagai persoalan bahasa.[1]

Di tengah berbagai permasalahan yang sedang menghimpit bangsa kita, persoalan bahasa menjadi kurang diperhatikan. Banyak masalah lain yang harus didahulukan daripada (sekedar) mempermasalahkan bahasa. Adakah yang dapat kita lakukan? Sebenarnya ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk bahasa kita, bahasa Indonesia. Misalnya dengan membiasakan diri untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan pada tempat dan saat yang tepat. Lalu bagaimana cara berbahasa Indonesia dengan baik dan benar? Salah satunya dengan tidak memcampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing (apakah ini berkaitan dengan pemurnian bahasa?[2]). Bahasa Indonesia yang terlalu polos (tanpa sisipan bahasa asing sama sekali) bagi sebagian (mungkin sebagian besar orang) terdengar kurang berisi, tidak keren, kuno bahkan dapat membuat kita muak, mual, muntah, pusing, berkeringat, bahkan mengalami disorientasi[3], benarkah begitu?

Kita berbahasa memiliki tujuan. Pada sebuah acara resmi (atau suasana santai sekalipun) kita akan berusaha untuk tampil menarik, berperilaku sopan, dan tentu saja berbahasa dengan baik. Baik dalam hal ini belum tentu benar. Pernahkah Anda berpikir bahwa bahasa Inggris itu keren? Lebih keren dari bahasa kita sendiri? Dalam beberapa (banyak) kesempatan, kita pasti pernah mendengar orang berbicara dengan menggunakan bahasa campuran, bahasa Indonesia yang dipadukan dengan kata-kata dari bahasa asing (bahasa Inggris). Apa tujuannya? (mungkin) agar terlihat cerdas, menunjukkan bahwa orang tersebut menguasai banyak bahasa, berpendidikan tinggi dan lain sebagainya, padahal belum tentu apa yang diutarakan dapat dimengerti oleh orang lain atau bahlan dirinya sendiri (lebih lanjut mengenai hal ini dapat disimak pada tulisan Bahasa Indonesia Campur Aduk[4]). Ah.. ada apa dengan bahasa Indonesia? (Saya lelah menulis hari ini, sampai di sini dulu…).

____________________
1Samsuri, Analisis Bahasa, (Jakarta: Erlangga, 1982), hlm. 3-4.
2Saya tidak menemukan sumber (di internet) tentang pemurnian bahasa.
3Dani Iswara, “Saya bukan penutur bahasa Indonesia yang baik”.
4Dion Priatma, “Bahasa Indonesia Campur Aduk”.


Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑