Bahasa Indonesia Campur Aduk

Di Indonesia kesepakatan Bahasa persatuan sebagai bahasa Indonesia telah dibentuk sejak Sumpah Pemuda (secara de facto), yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sah sebagai bahasa pemersatu. Jadi ketika kita menggunakan bahasa Indonesia jelas sudah kesepakatan kita untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang terrealisasi hingga detik ini, dengan harapan setiap warga Indonesia kedepannya dapat berkomunikasi satu sama lain tanpa mengalami kesulitan dengan seluruh manusia yang berada di wilayah Indonesia. Akhirnya, setiap kali kita menggunakan Bahasa Indonesia kita akan teringatkan oleh satu identitas atau peran dari diri kita yaitu : Aku ini orang Indonesia. Dan setiap kali kita berbahasa Indonesia kita telah mewujudkan salah satu impian Tunggal Ika (persatuan) dalam Ke-Bhinekaan (kemajemukan) kita, karena Bhineka adalah sebuah kenyataan sedangkan Tunggal Ika adalah suatu harapan yang terus-menerus sedang diusahakan realisasinya dalam bidang apapun dan persepsi manapun, kelak harus dikonsensuskan.

Namun belakangan ini ada cara pemakaian Bahasa yang sedang populer yang berlangsung dimana-mana dan dilakukan oleh semua orang dari semua kalangan yaitu : Penggunaan Bahasa Indonesia campur aduk. Sekarang ini orang sedang Hobi untuk mengkombinasikan Bahasa Indonesia mereka dengan bahasa asing, terutama dengan Bahasa Inggris, seperti kata-kata “F*** banget gitu lho” “You punya barang berapa” “so what gitu lho” “sampai ketemu later ya!” “saya sudah katakan sebelumnya kalau emotion itu selalu terpisah dengan cognition, thats why its very hard to reach konklusi dari kedua hal tersebut.” Dalam argumen, dalam bincang-bincang santai, dalam televisi, bahasa Indonesia tipe mutant ini selalu keluar. Mengapa bisa begitu?

Sebetulnya hal ini sudah terjadi sejak dulu, namun fenomena krisis tersebut baru meledak hari ini. Sewaktu Soekarno berdebat dengan salah satu aktifis feminis, dia menggunakan Bahasa Indonesia, Belanda dan Sunda secara campur aduk sehingga membuat orang-orang yang ada disekitarnya jadi bingung. Dan ketika itu Sjahrir menegur “tolong jangan gunakan 3 bahasa sekaligus ketika berpendapat, karena banyak peserta yang bingung. Lagipula kan Indonesia sudah ada Bahasa pemersatu, kenapa tidak gunakan itu saja?” Soekarno pun minta maaf lantas meneruskan musyawarah dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebiasaan seperti itu pun bisa kita temukan dalam catatan seorang nasionalis seperti Soe Hok Gie (Dalam bukunya "Catatan seorang Demonstran"), yang biasa mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.

Sebetulnya mudah sekali untuk mencari penyebabnya, Soekarno menggunakan Bahasa Belanda karena Bahasa Belanda ketika itu dijadikan sebagai Bahasa Akademis oleh sekolah-sekolah tingkat tinggi yang memang dikelola oleh bangsa Belanda. Dan banyaknya para Intelektual Indonesia yang belajar di Belanda pada saat itu telah mengesankan adanya identitas “intelek” bagi mereka yang mahir Bahasa Belanda (sebuah Halo Efek), juga ada kesan “Belanda sebagai pusat kegiatan akademik puncak” yang akhirnya memberikan efek pada kesan-kesan pusat ilmu ataupun peradaban tinggi pada identitas Negara Belanda dan seluruh kandungan yang ada di dalamnya (pakaian, bahasa, gaya hidup, makanan, selera musik, dsb).

Begitupun juga kehadiran Belanda yang saat itu sebagai negara adikuasa bagi bangsa Indonesia menyelipkan identitas superior bagi bahasa Belanda. Karena bahasa Belanda adalah Bahasa yang digunakan oleh kaum yang menjajah kita, perintah-perintah yang membudaki kita keluar dari bahasa itu, umpatan merendahkan kepada bangsa Indonesia juga keluar dari bahasa itu, maka menggunakan bahasa Belanda akan secara tidak sadar membuat kita berfantasi menjadi seorang Belanda. Seorang yang superior, intelek, kuat dan yang lain sebagainya. Dari sekian bahasa yang dikuasai Soekarno pada waktu itu, mengapa ia memilih Bahasa Belanda? hal itu adalah untuk menandakan bahwa “Saya ini pinter lho” “Saya ini kaum akademisi” dan banyak hal lain.

Dalam “Impian Pamanku (my uncle dream)” Karangan Fyodor Dostoyevsky disini disibak kebiasaan buruk orang-orang Russia dikala itu terutama dari kalangan kaum bangsawannya, menggunakan Bahasa Perancis dan Russia secara campur aduk untuk menunjukkan identitas keninggratan, kesopanan, kehalusan, selera, kelas sosial, menunjukkan kesan “beradab” kesan “intelek” dan peningkatkan gengsi. Kata-kata selamat tinggal dengan Au Revoir dan memuji kecantikan wanita dengan bahasa-bahasa Perancis, atau mengucapkan permintaan maaf atau teguran ramah dengan bahasa Perancis, biasa digunakan untuk ajang menjelaskan identitas diri sekaligus (pemalsuan/pseudo) peningkatan Identitas dan penandaan status kelas sosial, lalu mengapa harus Bahasa Perancis? Karena dikala itu, Perancis menjadi pusat literatur. Tempat para pemikir, seniman, sastrawan yang dipercaya memiliki budaya lebih tinggi dari mereka.

Dan kalau kita lihat TV sekarang ini, kita akan melihat fenomena-fenomena bahasa campur aduk seperti itu, contoh saja kita bisa melihat lagak Tantowi Yahya yang seakan sangat bangga sekali dengan Bahasa Inggrisnya yang sempurna. Nadine, lebih senang memakai Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia ketika diwawancara di kontes Miss Universe, padahal banyak dari pemenang kontes tersebut yang menggunakan penerjemah karena tidak menguasai Bahasa Adimanusia kontemporer atau bahasa Inggris. Dan Tukul, si cerdas itu, dibodoh-bodohi dengan ketawa-ketawaan para tamu dan penonton semata-mata karena tidak bisa bahasa Inggris, diberikan kesan tidak berpendidikan dan berpikiran sederhana, dikesankan menyandang budaya yang lebih rendah (kampungan/ndeso) padahal orang seperti dia kemampuan sosial dan penguasaan bahasanya bisa dikatakan melebihi rata-rata, kreatifitasnya dalam mengaitkan pembicaraan dan langsung dengan mudah menyimpulkannya mengisyaratkan kecerdasannya. Dan kerendahan hati juga kehidupan pribadinya yang prihatin tidakkah menggambarkan kebijakan prinsip hidup Jawa kuno yang mencari keprihatinan (bukan menghindari) dibandingkan dengan mengejar kerakusan pemuasaan syahwat?

Dan yang lucu lagi, di friendster, ada orang yang mencoba untuk menjelaskan profilnya dengan bahasa Inggris. Memasukkan hobi berkemahnya dan menulisnya dengan "Campang" yang sebetulnya adalah camping, hobi bertualangannya dengan Adnventure, dia ingin menetapkan kelas sosialnya dengan bahasa Inggris padahal dia tidak bisa bahasa Inggris, bukankah ini sangat menyedihkan? Atau juga didalam televisi serial olahraga basket, pembawa acaranya sungguh membuat kita mual. “Yo Brother and sister, this is our new-commer is in the house, so how is it Mc “Dog” Lohan? Bagaimana Kabar my brother belakangan ini? My brother and yang in the corner corner baik-baik saja kan?” Inilah disebabkan adanya pengertian bahwa bahasa Inggris menandakan kultur dan kelas sosial yang tinggi, dan ada pemahaman bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa Awam atau bahasa kaum kebanyakan yang memiliki kultur dan latar belakang yang lebih rendah daripada bahasa Inggris. Sebuah dualitas antara bahasa Kebanyakan (budaya rendah) dengan bahasa Kelas sosial Tinggi (Budaya Tinggi). Ini berasal dari sebuah perasaan malu dan perasaan inferior terhadap identitas golongan dan diri yang melahirkan penghambaan yang akut yang terjadi tanpa kita sadari terhadap kultur barat. Akhirnya untuk menutupi rasa rendah diri terhadap identitas kita, kita berusaha untuk berpura-pura atau meng-imitasikan diri sebagai orang Barat, agar ada perasaan sesaat bahwa kita ini beda dari bangsa Indonesia yang lain kita ini bangsa Indonesia yang menguasai adat istiadat barat yang lebih tinggi, lebih beradab, lebih rasional dan canggih.

Dan banyak kawan-kawan yang bila sedang dalam argument mengembalikan keterdesakan mereka dengan kata mutiara atau merubah bahasa yang mereka gunakan dengan bahasa Inggris, atau Jerman atau Perancis, bahwa mereka itu cerdas karena bisa berbicara dalam bahasa orang-orang cerdas. Mereka mengkomunikasikan bahwa mereka itu orang yang menguasai kultur tinggi, bukan orang sembarangan, mereka masuk kedalam kelas sosial elit. Sindiran terbaik untuk ini adalah memalui pemeranan salah satu pejabat kita di satu dunia lain didalam TV, yang ketika terdesak karena tidak tau, untuk melindungi diri dari takut kelihatan bodoh dia berbicara bahasa Inggris untuk menyelamatkan mukanya, “That’s Right my brother” sindiran maut dari timnya Olga Lidya yang imut dan cantik itu bagus sekali untuk tempat berkaca salah satu pejabat PLN yang diwawancara di Q TV yang menggunakan bahasa Inggris Indonesia campur aduk sekedar untuk membuat kita bingung akan kebobrokannya. Seharusnya kita menggunakan bahasa untuk membuat sebanyak-banyaknya orang mengerti bukan untuk membuat sebanyak-banyaknya orang tidak mengerti, bahasa memiliki identitas dari maknanya bukan dari jenis bahasanya, hanya anak kecil yang tahu akan bobroknya ilusi peradaban ini belajarlah dari mereka.

Karena itu dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam mengkomunikasikan Teknologi Informasi, perbincangan politik di televisi, hiburan dan berbagai hal lain, bukan sebagian kecil yang bisa mengaksesnya tapi seluruh masyarakat Indonesia yang bisa mengerti bahasa Indonesia bisa memahaminya, bisa memahami fenomena politik yang sekarang sedang berlangsung, bisa memahami lawakan yang sedang dibicarakan, bisa memahami wacana yang sedang diberikan, jadi tidak ada elitisasi dan segmentasi kelas dalam bahasa, dan orang tidak harus lagi malu untuk bangga terhadap bahasanya sendiri (dengar itu Nadine?), karena itu adalah bahasa kita maka kita harus menerima dan berbangga dengannya dengan sepenuh hati.

Aku tercerahkan untuk menulis ini dan mengaitkannya dikarenakan kata-kata Gus Dur “Daripada Pusing memikirkan 90 persen orang Indonesia bisa berbahasa Inggris agar dapat menguasai Teknologi Informasi, kenapa tidak mengubah bahasa Teknologi Informasi menjadi Bahasa Indonesia agar seluruh orang bisa Paham” dia bisa berbicara seperti ini karena dia melihat adanya hubungan antara mampu berbahasa Inggris dengan kemajuan, dia mampu menyibak ilusi tersebut. Karena itu ilusi segementasi kelas dan nilai intelektualitas dari bahasa adalah sebuah kabut yang harus kita sibak dan enyahkan, agar kita bisa memperlakukan bahasa seperti apa adanya bahasa itu layak diperlakukan. Bukankah dengan membudayakan bangga berbahasa Indonesia dimanapun dalam diskursus apapun secara tidak langsung kita juga akan mencerdaskan bangsa kita? Dan bila kita tidak membudayakannya sama saja dengan mengisolasi satu jaringan informasi agar tidak bisa diakses secara massal karena bahasa UFO-nya yang asing itu? Dengan kata lain sama saja dengan membiarkan kebodohan massal berlangsung karena kesulitan mengakses informasi yang ada karena kelainan bahasa. Kalau tetap kuat berpegang pada bahasa Inggris aku usulkan begini saja, kita jadikan saja bahasa Inggris sebagai bahasa pemersatu.

oleh Dion Priatma

(diambil dari catatan lama saya | referensi tidak ditemukan lagi)


Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑