Adam Ma’rifat

Analisis cerpen sederhana tentang sastra mistik…


adammarifat_1473Adam Ma’rifat adalah judul cerpen sekaligus judul buku kumpulan cerpen Danarto. Kisah dimulai ketika tokoh “aku” (Adam Ma’rifat) yang memperkenalkan dirinya sebagai cahaya yang melaju dengan kecepatan 300.000 kilometer per jam, bahkan per detik. Cahaya itu yang mengatur pagi, siang, dan malam, yang mengatur pertumbuhan makhluk hidup, yang mengatur pertukaran udara, yang sibuk bekerja sepanjang waktu tanpa mengenal lelah.  Adam Ma’rifat mengaku telah menciptakan manusia dari tanah, mengatur kehidupan manusia, kiblat dan tujuan manusia, sekaligus sebagai buruh bagi manusia. Kemudian ia mengaku sebagai penyatuan dari kebaikan nabi-nabi, ia adalah penumbuh dan pemusnah, ia mengetahui segala macam masalah, dan ia adalah Allah yang ngejawantah.


Pengenalan di atas, menunjukkan bahwa Adam Mari’fat adalah “sesuatu” yang menciptakan, mengusai, dan mengatur dunia dan segala makhluk yang ada di dalamnya. Sehingga Adam Ma’rifat dapat disamaartikan dengan Allah. Namun pengertian tersebut bukanlah tanpa batas, ada hal-hal yang secara esensial membedakan Allah dengan makhluk ciptaannya. Hal tersebut berhubungan dengan aliran-aliran tasawuf.


Secara umum tasawuf dapat dibedakan menjadi dua aliran, yaitu aliran Wihdatul-Wujud atau union mystic dan Wihdatu sy-Syuhud atau personal mystic. Wihdatul-Wujud adalah suatu alian tasawuf yang memandang bahwa manusia itu berasal dari Tuhan dan dapat bersatu dengan Tuhan sedangkan aliaran Wihdatu sy-Syuhud adalah suatu aliran tasawuf yang masih mempertahankan adanya perbedaan yang esensial antara manusia sebagai makhluk dan Tuhan sebagai pencipta makhluk tersebut.


Dalam cerpen tersebut Adam Ma’rifat mengaku sebagai manifestasi Allah. Pengakuan itu tentu saja mengundang kemarahan orang-orang yang mendengarnya. Orang-orang segera mengambil batu untuk melempari Adam Ma’rifat. Tetapi Adam Ma’rifat adalah pohon mangga yang berbuah lebat di atas bis yang ada di terminal. Sehingga buah-buah mangga itu jatuh ke genggaman orang-orang yang telah melemparkan batu, jumlah mangga itu sesuai dengan jumlah batu yang telah dilemparkan. Pengaturan tersebut menunjukkan kekuasaan Adam Ma’rifat karena kehendak Allah. Allah Maha Adil dalam membagikan rezeki kepada umatnya. Setelah menikmati buah mangga itu, semua orang tertidur, polisi-polisi, petugas pemadam kebakaran yang mencoba membangunkan juga ikut tertidur. Seluruh terminal tertidur.


Adam Ma’rifat berubah menjadi dirinya kembali. Dia kemudian membuat bahtera besar dari aspal dan bangunan di terminal untuk mengangkut orang-orang yang tertidur. Bahtera tersebut merupakan gambaran dari agama yang membawa umatnya pada kebenaran dan keselamatan. Setiap orang bebas memeluk agama apa saja yang diyakininya, namun agama yang diridloi Allah adalah agama Islam. Ketika bahtera mulai bergerak, orang-orang terbangun dan heran. Adam Ma’rifat membebaskan mereka untuk memilih untuk tetap tinggal atau meloncat dari kapal. Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada pemaksaan untuk masuk agama Islam. Sementara orang-orang meloncat keluar, Adam Ma’rifat mejamu mereka yang tetap tinggal dengan baik. Adam Ma’rifat menunjukkan kejadian yang telah lampau kepada orang-orang melalui layar televisi, kejadian itu adalah penyebab ikutnya mereka dalam kapal itu. Akhirnya semua yang dilewati bahtera tersebut meledak, hancur. Kejadian ini menggambarkan keselamatan yang diperuntukkan bagi umat yang beriman dan bertakwa saja. Sedangkan dari segi tasawuf, Adam Ma’rifat merupakan suatu pencapaian tertinggi dalam tahapan-tahapan tasawuf, yaitu ma’rifat. Ma’rifat dapat diartikan sebagai pengenalan atau pengetahuan. Manusia yang mencapai tahapan ma’rifat adalah manusia yang memiliki pengetahuan terhadap hal-hal ketuhanan yang tidak mungkin dikenal oleh manusia pada tahapan dibawahnya.

 

Referensi

Danarto. 1982. Adam Ma’rifat. Jakarta: Balai Pustaka.

Istadiyantha. 2002. Perbedaan antara Sastra Sufi dan Sastra Mistik, dalam Sujarwanto dan Jabrohim (ed.) “Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI”, Yogyakarta: Gama Media.

Y.B. Mangunwijaya. 1983. Sastra dan Religiositas. Jakarta: Gunung Agung.




Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑