Morfem

Linguistik adalah suatu ilmu yang mempelajari bahasa secara ilmiah. Ilmu linguistik mempunyai objek yang jelas, yaitu bahasa manusia. Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam interaksi sosial. Sesuatu yang dialami, dihayati, dirasakan, dan dipikirkan oleh seseorang dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa. Bahasa yang dipakai manusia untuk berinteraksi mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Bahasa terbentuk dari hasil konvensi dalam masyarakat pengguna bahasa. Untuk itu, ilmu linguistik mempunyai metode yang beragam untuk mempelajari bahasa tersebut dengan berbagai tujuan.

Bahasa senantiasa mengalami perkembangan. Dalam hal ini linguistik berperan untuk mendeskripsikan suatu sistem bahasa. Linguistik juga berperan dalam memprediksi perkembangan yang terjadi pada suatu bahasa, sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam penggunaan bahasa dapat segera diperbaiki.

Dalam linguistik terdapat bidang-bidang ilmu yang membentuk tataran atau hierarki bahasa, yaitu fonologi, sintaksis, dan morfologi. Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam bahasa tersebut. Sintaksis adalah bidang linguistik yang menyelidiki semua hubungan antar kata dan antar frase dalam kalimat. Sedangkan yang dimaksud morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal.

Kita dapat mempelajari proses-proses terjadinya kata, bentuk kata, dan fungsinya dengan mempelajari morfologi. Dalam morfologi dikenal istilah morfem. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, 2001: 141). Pembahasan kali ini akan difokuskan pada bagian dari bidang ilmu morfologi yang membahas masalah morfem dan proses-proses morfemis dalam suatu bahasa.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil. Untuk lebih mengenal dan memahami morfem, dijabarkan prinsip-prinsip pengenalan morfem sebagai berikut:

  1. Bentuk-bentuk yang berulang-ulang muncul dan mempunyai pengertian sama, termasuk morfem yang sama. Contoh: menjalankan, berjalan, perjalanan, dijalankan.
  2. Bentuk-bentuk yang mirip (hampir sama) yang mempunyai pengertian yang sama termasuk morfem yang sama, apabila kondisinya atau sebab perbedaanya dapat diterangkan secara fonologis. Contoh: impossible, inconventional, irreguler.
  3. Bentuk-bentuk yang mirip (hampir sama) yang mempunyai pengertian sama, termasuk morfem yang sama, apabila kondisinya atau sebab perbedaanya dapat diterangkan secara morfogis. Contoh:beranjak, belajar, beternak.
  4. Bentuk-bentuk yang sama merupakan morfem yang berbeda apabila berbeda pengertiannya. Di dalam semantik bentuk semacam ini disebut homonim. Contoh: bisa ular, bisa membaca.
  5. Bentuk-bentuk yang sama merupakan morfem yang sama, apabila pengertiannya berhubungan dengan distribusi yang berbeda. Di dalam semantik bentuk semacam ini disebut polisemi. Contoh: kepala sekolah, kepala kantor, sakit kepala.
  6. Apabila suatu bentuk terdapat di dalam kombinasi satu-satunya dengan bentuk lain yang pada gilirannya dapat berdiri sendiri atau dalam kombinasi dengan bentuk-bentuk lain, maka bentuk tersebut dapat disebut morfem juga (morfem unik). Contoh: beras petas, sayur mayur.
  7. Apabila di dalam suatu deretan struktur terdapat perbedaan yang tidak terwujud (berupa kekosongan), maka kekosongan itu dianggap morfem kosong (morfem zero).[1]
Secara struktur, morfem dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu morfem bebas, terikat; asal, imbuhan; utuh, terbagi.[2] 

Morfem dibedakan sebagai morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas dapat “berdiri sendiri”, yaitu bisa terdapat sebagai suatu “kata”, sedang morfem terikat tidak terdapat sebagai kata tetapi selalu dirangkaikan dengan satu atau lebih morfem yang lain menjadi satu kata.[3] Contoh: benci, minum, dan satu merupakan morfem bebas, sedangkan ter- dalam tercipta adalah morfem terikat.

Bentuk bebas biasanya mempunyai arti leksikal, sedangkan bentuk terikat biasanya tidak mempunyai arti leksikal namun mempunyai arti gramatikal. Ada juga bentuk terikat yang mempunyai arti leksikal. Bentuk bebas yang tidak mempunyai arti leksikal disebut partikel. Bentuk terikat yang mempunyai arti leksikal disebut klitik.[4]

Selanjutnya morfem dibedakan menjadi morfem asal dan imbuhan. Morfem asal adalah morfem yang berupa kata dasar yang dilekati imbuhan. Sedangkan imbuhan tersebut disebut sebagai morfem imbuhan. Misalnya dalam kata bermalam, malam adalah morfem asal dan ber- adalah morfem imbuhan.

Morfem dibedakan lagi menjadi morfem utuh dan morfem terbagi. Contohnya kata sambung sebagai kata dasar utuh. Kata kesinambungan terdiri atas imbuhan terbagi ke-।-an dan morfem pradasar (morfem yang membutuhkan pengimbuhan atau pengklitikan atau pemajemukan untuk menjadi bentuk bebas): sinambung, terdiri atas sambung yang menjadi terbagi karena adanya imbuhan yang berupa infiks -in-.[5]


____________________
1Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 2002), hlm. 91-92.
2J.W.M. Verhaar, Pengantar Linguistik I, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983), hlm. 60.

3Ibid, hlm. 52-53.

4Soeparno, Op. Cit., hlm. 93-94.

5J.W.M. Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001), hlm. 100.



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑