Bahasa Jawa . . . Sebuah Pilihan?

bahasa jawaBagaimana harus menjawab pertanyaan di atas? mari kita perhatikan lingkungan sekitar kita, lebih tepatnya “orangtua baru” yang sedang giat-giatnya membentuk pribadi anak mereka. Apa yang Anda temukan? (kemungkinan) Anda akan menemukan generasi muda yang berasal dari tanah Jawa, dengan kedua orangtuanya yang ASLI Jawa (mampu, bahkan fasih berbahasa Jawa dengan berbagai tingkatannya), namun tak menguasai bahasa Jawa. Entah apa yang terjadi, mereka (orangtua), tidak mengajarkan/membiasakan penggunaan bahasa Jawa pada anak (-anaknya).

Fenomena tersebut (kalau boleh saya sebut sebagai sebuah fenomena) muncul dari berbagai macam pandangan dan anggapan “miring” terhadap bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa. (Salah satunya) Bahasa Jawa dianggap sebagai bahasa orang desa, orang zaman dulu, orang udik, orang kasar (biasanya berhubungan dengan suh-misuh …he..he..) dsb, sehingga ada (banyak) orangtua yang “sengaja” memutus mata rantai ‘bahasa ibu’ mereka dan menggantinya dengan bahasa yang dianggap lebih modern untuk diajarkan pada anak-anaknya.

Namun bila ditelaah lebih lanjut (mengesampingkan pandangan dan anggapan “miring” tersebut), bahasa Jawa (dan juga bahasa daerah lain) memiliki tingkat kesopanan dan budi pekerti yang luhur. Dari segi psikologi, pemutusan mata rantai ‘bahasa ibu’ akan menyebabkan sang anak tumbuh secara monolingual (menguasai satu bahasa), sehingga hanya mempunyai satu pengalaman pemerolehan bahasa (misalnya seorang anak yang hanya mengenal bahasa Indonesia sejak masa pemerolehan bahasanya). Padahal, pada umumnya, masyarakat Indonesia adalah bilingual (menguasai bahasa daerah dan bahasa Indonesia), terlebih lagi, menjadi bilingual (atau pun multilingual) memiliki keuntungan baik secara intelektual, psikologis, dan sosial. Saya bertanya-tanya, mengapa para orangtua justru membentuk anaknya menjadi monolingual? Menurut penelitian Hero Patrianto, salah satu peneliti dari Balai Bahasa Surabaya, sejak tahun 2006 kurang lebih 80% keluarga muda di Jawa Timur mengalami pergeseran bahasa dari ‘bahasa ibu’ mereka ke bahasa Indonesia. Seperti yang telah tertulis di atas, putusnya mata rantai ‘bahasa ibu’ dari suatu generasi akan menyebabkan hilangnya jejak bahasa pada generasi-generasi selanjutnya , sehingga ada kemungkinan (menghaluskan maksud “kemungkinan besar”) menjadi salah satu penyebab dari kepunahan suatu bahasa.

Bagaimana dengan lingkungan sekolah? Berangkat dari anggapan “miring” tentang bahasa Jawa, mata pelajaran bahasa Jawa pun mulai (sudah) dianggap sepele dan kurang mendapat perhatian lebih. Di lain pihak, masyarakat kita sudah menganggap (mata pelajaran) bahasa Inggris sebagai (mata pelajaran) bahasa yang terpenting (lalu bagaimana dengan bahasa persatuan kita? Anda dapat menebak jawabannya…). Porsi yang diberikan sekolah pada mata pelajaran bahasa Inggris jauh lebih besar dari mata pelajaran bahasa lain (bahasa Indonesia dan bahasa Jawa). Beramai-ramai para orangtua “memaksa” anak-anaknya untuk mengikuti kursus-kursus bahasa asing tersebut, dan secara tak langsung telah melupakan dan menciderai keluhuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia (membiarkan anak-anaknya menjadi orang asing di negeri sendiri…??). Masalah yang dilematis, di satu sisi kita harus tetap menjaga dan melestarikan bahasa Jawa, di lain sisi kita juga tak bisa menghindar dari tuntutan zaman. Perlu ditekankan bahwa usaha pelestarian bahasa sebagai salah satu elemen budaya tidak serta-merta menolak atau melemahkan budaya/bahasa asing, selama pengaruh yang diberikan positif. Demi tercapainya kemajuan dalam masyarakat, diperlukan adanya “keseimbangan” dalam pembelajaran dan penguasaan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Bagaimana dengan kita (Anda yang berdarah Jawa), apakah harus kehilangan identitas kita sebagai orang Jawa? ……………

Menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya kita sendiri memang tidaklah mudah. Dimulai dari suatu yang dianggap “keren”, mari kita bandingkan: ketika kita melihat huruf kanji dari Jepang (saat menonton film misalnya) dan saat kita melihat aksara Jawa (di weblog ini misalnya), apa yang Anda rasakan? - - ketika kita mendengar gamelan Jawa dan saat kita musik garapan Kitaro (instrumentalis Jepang), manakah yang kita anggap lebih “keren”? dan/atau: Manakah yang lebih mudah ditemui? Anak-anak yang pandai berolah kata dengan krama inggil dengan orangtuanya? Atau anak-anak yang tak menguasai bahasa Jawa tetapi “pandai” berbahasa Inggris dengan logat jawanya yang kental? Bila Anda sebagai orangtua, bahasa apa yang lebih dulu Anda ajarkan pada buah hati Anda? (jangan biarkan tempat kita berpijak menangis, karena kita kehilangan kebanggaan terhadapnya, karena anak-anak kita tak lagi mengenal jati diri di tempat mereka dilahirkan, karena . . .)



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑