Pesona itu . . . Memesonakan Aku

memesonaSaya pernah mendapat pertanyaan dari seorang sahabat (perempuan), yang kala itu benar-benar membuat saya salah tingkah. “Kamu benar-benar mempesona…” (eh..itu kan pernyataan, bukan pertanyaan?). Ternyata tak hanya sampai di situ (jangan berpikir macam-macam dulu), dia kemudian bertanya, “Kalimat yang tadi benar tidak ya?”. Saya berpikir, apa benar saya memesona (GR!!!!)? dia kembali bertanya, “mempesona atau memesona ya?”. Saya baru sadar setelah sedikit “mencerna” pertanyaan itu. Antara "mempesona" dan "memesona". Manakah yang benar?
Pada suatu ketika, pandangan mata saya secara tak sengaja tertuju pada sampul “Sang Pemimpi” (buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi), yang kebetulan tertumpuk bersama “Edensor” (buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi).
Sang PemimpiEdensor
Dalam hati saya berkata, “keduanya 'memesona'….." Sering kita mendengar, mengucapkan atau menulis kata ‘pesona’ dengan awalan me- menjadi "mempesona", atau "memesona". Mari kita perhatikan beberapa kutipan berikut (saya kutip dari judul-judul artikel di dunia maya). mempesona ► -Aisyah r.a, Perempuan Mempesona -Islam di Papua, Fenomena Mempesona -Grup Al-Izhar Mempesona Turis Asing di Hungaria -10 Galaksi Paling Mempesona Di Semesta Kita -Menjadi Suami yang Mempesona, Mengapa Tidak?? -Kerajinan Logam yang Mempesona -Danau Toba Masih Mempesona memesona ► -Gerindra Memesona, SBY Waspadalah! -Tanpa Yao Ming, Rockets Tetap Memesona -Cara Sederhana Tampil Memesona -Hillary Memesona Dunia -Megawati: Saya Memang Memesona -Senja Kala Memesona Candi Boko -Pantai Brasil yang memesona Bagaimana? manakah yang wajar? manakah yang tepat? manakah yang benar? "mempesona"? "memesona"? Mari kita bandingkan….
mempesona/memesona memproduksi/memroduksi memperkuat/memerkuat
Kita bedah lagi…
(me-) + pesona (me-) + produksi (me-) + (per-) + kuat
pesona | produksi | kuat
Kata mempesona/memesona berkata dasar “pesona”, yang diawali huruf /p/, secara umum kita bisa/biasa menggunakan teori berikut.
Kata dasar berawal /k/, /p/, /t/, dan /s/ bila dilekatkan dengan imbuhan me- akan luluh dan menjadi /ng/, /m/, /n/, dan /ny/.
Maka kata "pesona" bila dilekatkan dengan imbuhan me- akan menjadi “memesona” (/p/ luluh dan menjadi /m/). Memang kita sering menemui bentuk “mempesona”, tapi kenapa kita tidak menggunakan bentuk yang benar (“memesona”)? (masalah kebiasaan?) Kata "produksi" bila dilekatkan dengan imbuhan me- akan menjadi “memproduksi”…lho? Menurut Pak Harimurti Kridalaksana (pakar bahasa Indonesia), proses peluluhan /k/, /p/, /t/, dan /s/ harus dilihat dari tiga cara pembentukan, yaitu :
  1. asimilasi (/k/, /p/, /t/, dan /s/ benar-benar luluh), misalnya “mengeruk” (keruk), “memesona“ (pesona), “meniadakan” (tiada), “menyukseskan” (sukses), dsb.
  2. disimilasi (/k/, /p/, /t/, dan /s/ tetap dipertahankan karena diserap dari bentuk asing, seperti "mengkonfirmasi", "mengklarifikasi", “mempopulerkan” , " memproduksi ", dsb), dan
  3. semantik (terjadi dua atau tiga bentukan karena berbeda makna, misalnya "mengaji" dan "mengkaji").
Pada kata “memproduksi”, /p/ tetap dipertahankan, karena kata “produksi” merupakan kata serapan dari bentuk asing, dan diawali dengan gugus konsonan (konsonan rangkap) /p/ dan /r/. Hal yang sama berlaku untuk kata “mentransmigrasikan” (bukan “menransmigrasikan”), “memprogramkan” (bukan “memrogramkan”), “mentranskripsikan” (bukan “menranskripsikan”), dsb.
Bagaimana dengan “memperkuat”/”memerkuat”?
Setelah kita bedah tadi, kita mengetahui bahwa “memperkuat”/”memerkuat” berasal dari kata dasar “kuat” yang mendapat imbuhan me- dan per-. Dapat kita lihat bahwa per- merupakan imbuhan, tidak mengalami peluluhan, sehingga menjadi “memperkuat” (hal ini tentunya berbeda dengan kata “menguat”, yang tidak mendapat imbuhan per-). Timbul pertanyaan lagi, “mempercayai” atau “memercayai”? dengan mudah kita dapat menjawabnya, bahwa kata “mempercayai”/ “memercayai” berkata dasar “percaya”, jadi …. (Anda dapat meneruskannya sendiri). Sebenarnya masih banyak kata-kata (yang dianggap benar) terlihat, terasa, dan terdengar lebih nyaman daripada kata-kata yang sesuai dengan kaidah kebahasaan, sekali lagi, apakah ini hanya masalah kebiasaan? . . . . . Dari uraian sederhana tersebut, pertanyaan dari sahabat saya telah terjawab, bahwa saya memang “memesona” bukan "mempesona" (he…he…he…).



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑