Fenomenologi Sederhana "Selusin Kuatrin"

Selusin KuatrinKritik fenomenologi menyatakan semua karya sastra dianggap cermin kepribadian pengarangnya. Semua karya merupakan gambaran kesadaran pengarang, yang ada hubungannya dengan ego empiris/biologisnya selanjutnya merembes dalam karyanya. Fenomonologi berkembang sebagai metode untuk mendekati fenomena-fenomena dalam kemurniannya. Fenomena sendiri dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dengan sesuatu cara tertentu tampil dalam kesadaran kita, baik berupa sesuatu sebagai hasil rekaan maupun berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun kenyataan.
Sub Menu
Psikoanalisis dapat menganalisis jiwa pengarang lewat karya sastranya. Sastra merupakan cerminan atau gambaran yang ada pada penulisnya sendiri. oleh karena itu sastra tidak bisa lepas dari latar belakang penulisnya. Sastra akan sangat dipengaruhi oleh pola pikir, kejiwaan dan kedewasaan penciptanya. Meskipun demikian sastra tidak selalu identik dengan penulisnya yang sengsara. Karena ekpresi yang dilakukan penulis bukan semata-mata dari apa yang ada dalam dirinya tetapi juga kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya. Berkenaan dengan hal tersebut sastra bisa merupakan kritik terhadap kondisi sosial. Baik secara global maupun sempit sastra bisa merupakan reflesi sosial. Sastrawan yang tertindas secara politik tentu akan banyak menggambarkan kedholiman perpolitikan yang dialami. Sedangkan seorang sastrawan yang secara sosial berada dalam posisi yang sulit secara ekonomi, tentu akan menggambarkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kesulitan hidup yang dihadapi. Meskipun semuanya tidak jaminan akan demikian, tetapi stimulan yang dialami oleh pengarang jelas akan sangat berpengaruh pada diri dan karya yang dibuat oleh seorang pengarang. Dalam kaitannya dengan fenomenologi dan psikoanalisis, berikut ini akan ditelaah puisi dari Ook Nugroho yang berjudul “Selusin Kuatrin”. Dalam “Selusin Kuatrin”, Ook Nugroho (penulis) mencoba untuk menangkap fenomena-fenomena yang muncul dalam kehidupannya.

Selusin Kuatrin Sepi Kini tinggal kupunya sepi Duduklah kalian mengitari luka Sementara kumatangkan perihnya Kita berbagi seorang sepuisi Anakku Tidur anakku memeluk malam Memanjat mimpinya sampai bebintang Biarlah begitu tak usah ia paham Bapaknya sayu menatap berlinang Kalbu Pada labirin hurufnya kerap aku ragu Apakah sebetulnya ini gelisah kuburu Jika rindu tumbuh bersumber pada kalbu Mengapa masih aku mencari selain kamu Dalam Menjulur Tubuhku telanjang bebas kau jamah Ruhku seluruh tapi luput kau sentuh Kecuali utuh rindumu sepenuh Dalam menjulur menarikku rebah Genangan Cobalah lebih membungkuk Lebih mendekat pada bumi Mungkin bisa terdekap nyeri Bayang-bayang awan yang remuk Gerimis Gerimis bersua sunyi di persimpangan Mereka anehnya sepakat untuk tak bersapaan Barangkali paham, kata-kata & bahasa hanyalah beban Pada perjumpaan dua hati janganlah terusik kehadiran Penjara Aku terjebak dalam rima Sebuah penjara seluas rasa Bagaimana bisa lolos merdeka Terjun ke jurang sedalam kata Rumah Omi Jendelanya menghadap senja Pintunya menatap malam Dindingnya bernama diam Lakonmu muda karam di sana Lagu Simpang Aku seperti sopir mikrolet tua itu Berlama-lama menunggu di simpang waktu Barangkali ada luka lintas nyebrang di situ Biar kupanggil kujebak ke pangkal ngilu Tafsir Daniel Disorong nyawaku ke moncong kata Sebuah kerangkeng bernama sunyi Menawanku dalam sangit kobaran puisi Aku tak mati hanya kepayang di pintu sorga Amsal Asal Kita terlahir karena kelamin Kita bahagia mungkin sebab kelamin Kita sengsara bisa gara-gara kelamin Sungguh celaka tapi hidup tanpa kelamin Sajak Kata pertama kukira adalah langit Kata penghabisan mestinya itulah bumi Baris-baris hampa penuh keluh sakit Mengisi lengang antara langit dan bumi

Ulasan Sederhana
Pada kuatrin pertama, penulis menggambarkan keadaan sepi yang dialaminya dalam keadaan terluka. Dalam sepi tersebut penulis mencoba untuk berkarya dengan berpuisi. Pada kuatrin kedua, penulis menghadirkan keadaan malam hari di mana anak-anaknya sedang tidur. Dipilihnya kata “sayu” yang disandingkan dengan kata “berlinang” menunjukkan bahwa penulis bersedih saat menatap anak-anaknya. Kuatrin ketiga, labirin dapat diartikan sebagai ruang “dalam”, “labirin hurufnya” merupakan penggambaran dari makna yang ada dalam huruf, lebih jauh lagi kata, rangkaian kata, kalimat, dan seterusnya. Penulis membaca sesuatu, pesan, surat, ia gelisah, ragu, rindu pada sesorang. Kuatrin keempat, penulis merasa seseorang dalam hidupnya hanya bisa memahaminya secara lahiriah, tetapi tidak mampu memahami perasaannya, jiwanya, hanya kerinduan seseorang itu yang membuatnya tenang (rebah). Kuatrin kelima, penulis mengajak untuk tidak selalu memandang ke atas langit, tapi juga menengok bumi. Kita diharapkan untuk mensyukuri kehidupan kita dan menerima, dengan sesekali menengok orang-orang yang keadaannya di bawah kita, tidak melulu mendambakan kehidupan orang-orang yang keadaannya di atas kita. Kuatrin keenam menggambarkan bahwa keterpautan dua hati tidaklah harus selalu ada dalam satu ruang dan waktu. Kuatrin ketujuh, penulis dalam berkarya dengan melibatkan kata (bahasa) dan rasa. Oleh karena hobinya tersebut, penulis serasa tidak akan pernah lepas dari kegiatan berkarya sastra. Kuatrin kedelapan berhubungan dengan keterpurukan seorang pemuda. Kuatrin kesembilan, penulis berusaha menepiskan lukanya yang muncul kemudian (antisipasi). Kuatrin kesepuluh, Daniel, salah satu anak penulis, membaca keadaan ayahnya yang kesepian di antara kegiatan berkarya sastranya. Kuatrin kesebelas menggmbarkan kelamin sebagai sebab kelahiran, kebahagiaan, kesengsaraan, dan juga sesuatu yang harus ada dalam kehidupan. Kuatrin keduabelas, kata-kata dalam sajak digambarkan sebagai langit dan bumi, berawal dari keadaan yang tinggi, mewah, berlebih-lebihan, dan berakhir dalam keadaan membumi, menyatu dengan manusia pada umumnya, setelah mengalami berbagai kehampaan yang menyakitkan.

Simpulan Dari keseluruhan kuatrin, dapat disimpulkan bahwa Ook Nugroho mempunyai kepribadian yang unik sebagai seorang penulis. Jiwanya dibiarkan begitu bebas merantaui seluk-beluk kehidupannya sendiri maupun kehidupannya dengan orang-orang disekitarnya. Sebagai seorang ayah, Ook Nugroho sangat memperhatikan perkembangan anak-anaknya, ia merasa mempunyai tanggung jawab penuh terhadap kehidupan anak-anaknya. Walaupun kehidupannya sederhana, ia tetap terus berkarya, baik dalam pekerjaan akuntannya, maupun sebagai seorang penulis.

Referensi: Delfgaauw, Bernard. 1988. Filsafat Abad 20. Yogyakarta: Tiara Wacana. Wajiran. 2007. “Konsep Sastra Menurut Sigmund Freud” dalam wajirannet.blogspot.com. “Jendela Ook Nugroho” dalam ooknugroho.blogspot.com. “Sajak-sajak” dalam cetak.kompas.com. Minggu, 18 Mei 2008. “Profil” dalam ruang-samping.blogspot.com.



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑