Saya dan Bahasa (Sebuah Komentar)

Artikel yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) terdiri dari dua bagian, yaitu bagian yang memaparkan riwayat kebahasaan dirinya sendiri dan bagian tentang hubungan antara pikiran dan bahasa. Pada bagian pertama, SGA mengatakan bahwa bahasa pertamanya adalah bahasa Inggris yang digunakannya untuk berkomunikasi sampai dengan umur lima tahun. Selanjutnya SGA menggunakan bahasa Jawa dengan teman sepermainanya, dan juga kemudian dengan orang tuanya. Pada bagian kedua, SGA memaparkan bagaimana ia berpikir dengan bahasa. Ia menyatakan bahwa pengalaman tersimpan bersama bahasanya. Artinya bahasa yang tersimpan dalam perbendaharaan budaya seseorang selalu berkait dengan pengalaman tertentu. Selengkapnya akan dibahas dalam uraian berikut:

1. Bagian Pertama
Dalam hubungannya dengan kelas sosial, SGA mengatakan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang bertingkat-tingkat, penggunaanya disesuaikan dengan kedudukan orang yang mengajak atau kita ajak bicara, Dengan kata lain bahasa masyarakat feodal. Kuntjaraningrat membagi masyarakat Jawa menjadi empat tingkat, yaitu (1) wong cilik, (2) wong sudagar, (3) priyayi, dan (4) ndara. Berdasarkan pembagian tersebut, dapat dikatakan bahwa dalam masyarakat Jawa terdapat variasi bahasa yang digunakan sesuai dengan kelas sosialnya. Pada waktu berkomunikasi, orang yang kelas sosialnya lebih rendah akan menggunakan variasi bahasa Jawa dengan tingkatan yang lebih tinggi, sebaliknya orang yang kelas sosialnya lebih tinggi akan menggunakan variasi bahasa yang tingkatannya lebih rendah. Variasi bahasa Jawa yang penggunaanya didasarkan pada kelas sosial atau disebut unda usuk ini menyebabkan penutur bahasa untuk terlebih dahulu mengetahui kelas sosial mitra bicaranya sebelum menentukan variasi bahasa mana yang harus digunakan.

Seperti yang telah disebutkan SGA, bahasa Jawa dibagi menjadi dua, krama dan ngoko. Di antara krama dan ngoko masih terdapat tingkat-tingkat antara. Kerumitan variasi bahasa Jawa ini seringkali membuat orang Jawa sendiri merasa kesulitan untuk menentukan bahasa mana yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kelas sosial tertentu, seperti SGA pada masa anak-anak yang merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak yang berbeda kelas sosialnya. Namun dalam menggunakan bahasa Indonesia, SGA merasa bebas karena dalam bahasa Indonesia tidak dikenal unda usuk seperti dalam bahasa Jawa.

Penggunaan variasi bahasa pada waktu dan situasi tertentu juga berhubungan dengan kesopanan. Misalnya saat kita berada dalam suatu percakapan dengan orang-orang yang lebih tua dengan menggunakan bahasa Jawa, maka kita harus memilah variasi mana yang harus kita gunakan, yang disesuaikan dengan kelas sosial dan usia masing-masing orang untuk menjaga kesopanan.  

2. Bagian kedua
Bagian kedua dari artikel SGA berhubungan dengan hipotesis yang dikemukakan oleh Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf kira-kira berbunyi sebagai berikut: Bahasa Ibu (native language; mother tongue) seorang penutur membentuk kategori-kategori yang bertindak sebagai sejenis jeruji (kisi-kisi). Melalui kisi-kisi itu si penutur melihat “dunia luar” (dunia di luar dirinya). Karena “penglihatan” penutur terhalang oleh kisi-kisi, pandangannya ke dunia luar menjadi seolah-olah diatur oleh kisi-kisi itu. Kisi-kisi itu memaksa si penutur menggolong-golongkan dan membentuk konsep tentang berbagai gejala dalam dunia luar itu berdasarkan bahasa ibunya. Dari hipotesis tersebut dapat dikatakan bahwa bahasa ibu mempunyai pengaruh terhadap pandangan penutur terhadap dunia luar (Sumarsono, 2002: 59). 

Namun dalam artikel tersebut, ketika ditanya tentang bahasa apa yang dipakai SGA untuk berpikir, ia menjawab dengan bahasa Jawa. Seperti yang telah diketahui, “bahasa ibu” SGA adalah bahasa Inggis, dan bahasa Jawa diperoleh SGA pada umur lima tahun dan lebih sering digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari daripada bahasa Inggris. Oleh karena itu pada saat menjawab pertanyaan tersebut, SGA merasa bahwa bahasa Jawa sebagai “bahasa ibu”-nya. Lebih lanjut SGA mengatakan bahwa bahasa apa yang ia pergunakan untuk berpikir tergantung pada apa yang dipikirkannya. Hal tersebut berkaitan dengan hipotesis ektrem Sapir – Whorf yang tidak dapat diterima: “cara berpikir masyarakat benar-benar dibatasi oleh bahasa”. Menurut SGA, tidak “segala” pikiran dapat diungkapkan dengan bahasa tertentu. Ada kalanya kita mampu memikirkan sesuatu dengan bahasa Jawa, tetapi untuk memikirkan hal-hal tertentu kita tidak bisa atau tidak cukup dengan menggunakan bahasa Jawa, kita perlu menggunakan bahasa lain, bahasa yang kita kuasai dengan baik dan bisa kita gunakan untuk memikirkan sesuatu yang tidak bisa kita jangkau bila kita hanya mengenal atau menggunakan satu bahasa saja. Secara umum, kita akan lebih sering menggunakan bahasa yang lebih kita pahami dan kuasai (lebih dominan) untuk memikirkan sesuatu daripada bahasa lain yang kurang kita pahami dan kita kuasai, baru kemudian kita terjemahkan dalam bahasa lain (sesuai dengan kondisi, situasi, dan kompetensi) pada saat kita ungkapkan dalam bentuk ujaran. 

Artikel SGA di atas menyinggung pula masalah penggunaan bahasa walikan oleh para pencuri, perampok, dsb. Bahasa tersebut pada awalnya memang digunakan oleh kalangan dalam dunia kriminal, tetapi kemudian pada perkembangan selanjutnya, bahasa walikan digunakan pula oleh para remaja untuk menunjukkan identitas dirinya. Berhubungan dengan hal tersebut SGA memanfaatkan bahasa walikan untuk “menyamarkan” kata-kata tertentu dalam karya sastranya dengan alasan yang khusus. 

Referensi
Abdul Chaer, Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta. Sumarsono, Paina Partana. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda.



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑