Meniti Hutan Cemara

Lagu merupakan syair atau puisi yang dinyanyikan, sehingga dapat dikatakan bahwa lagu termasuk dalam karya sastra puisi dilihat dari segi liriknya. “Meniti Hutan Cemara” merupakan lagu yang termuat dalam album ketiga Katon Bagaskara yang berjudul “Harmoni Menyentuh”. Lagu yang mengisahkan hutan cemara sebagai perhentian sejenak dalam kejenuhan hidup ini diciptakan oleh Katon Bagaskara, yang dikenal sebagai pencipta lagu dengan lirik-lirik yang puitis.



Lebih lanjut akan dibahas gaya bahasa dalam lirik lagu “Meniti Hutan Cemara” yang mencakup aspek bunyi dan bentuk bahasa kias.  



Meniti Hutan Cemara
Katon Bagaskara

1.      Kabut dingin merendah
Perlahan datang menyapa
semak-semak tanah basah

2.      Langkah kaki seiring
pandangan hijau terhampar
Di tepi hutan cemara

3.      Setelah lelah bertarung
dalam kerasnya hidup
Kubutuh untuk sejenak
menenangkan nurani

4.      Wahai alam dekaplah jiwaku
Gelisah dan mencari
Di langit ingin kubasuh wajahku
Biar segar meraja

5.      Mentari dini kuperlu hangatmu
Menyusup buluh nadi
Membuka hari yang baru untukku
Songsong apa terjadi

6.      Meniti hutan cemara

7.      Sepintas jejak tertinggal
dalam lumpur terkubur
Jenuhku adalah beban
yang tak boleh terulang



 a.      Aspek Bunyi dalam Lirik Lagu “Meniti Hutan Cemara”
Bait ke-1
Pada larik “Semak-semak tanah basah” terdapat perulangan bunyi vokal α yang membentuk asonansi. Perulangan bunyi tersebut mendukung terciptanya keadaan yang dingin pada waktu pagi sebagai akibat dari turunnya kabut. Perulangan tersebut juga membangun orkestrasi sehingga terdengar merdu pada saat dibaca atau dinyanyikan.

Bait ke-2
Asonansi tampak pada “langkah kaki seiring”. Paduan bunyi vokal a yang mengisyaratkan kegelisahan dengan vokal e yang ringan menunjukkan kegelisahan hidup yang dialami manusia akan terasa lebih ringan jika berhenti sejenak menikmati keindahan alam.

Bait ke-3
Perulangan bunyi vokal e pada larik “setelah lelah bertarung” menunjukkan adanya asonansi yang berfungsi untuk memperdalam rasa “lelah” setelah bertarung dalam kerasnya kehidupan. Selain itu dalam larik yang sama terdapat konsonansi bunyi konsonan h pada kata “setelah” dan “lelah”. Pada larik “kubutuh untuk sejenak” juga menunjukkan adanya asonansi. Bunyi u yang “berat” dimaksudkan untuk menggambarkan perasaan gelisah yang menghinggapi karena lelah bertarung dalam kerasnya kehidupan.

Bait ke-4
Asonansi yang berupa paduan bunyi vokal a pada larik “wahai alam dekaplah jiwaku” mengisyaratkan adanya beban berat yang ingin ditumpahkan pada “alam”. Pada larik “gelisah dan mencari”, paduan vokal e yang bernuansa “tinggi”, menunjukkan penutur (dalam hal ini pencipta sekaligus penyanyi lagu, Katon Bagaskara) ingin meneriakkan kegelisahan jiwanya dalam mencari ketenangan hati.

Bait ke-5
Bait ini mempunyai pola paduan bunyi yang hampir sama dengan paduan bunyi pada puisi lama yang disebut pantun. Kesamaan tersebut hanya sebatas pada bentuk paduan bunyi saja, hubungan antar larik yang berperan sebagai sampiran dengan larik yang berperan sebagai isi seperti pada pantun tidak ditemukan dalam bait ini. Penggunaan paduan pada bait ini bertujuan untuk menciptakan efek musikalitas.

Bait ke-6
Pada bait ini yang hanya terdiri dari satu larik ini terdapat paduan bunyi e:  “meniti hutan cemara” yang menghasilkan asonansi.

Bait ke-7
Paduan bunyi e pada larik “sepintas jejak tertinggal” juga merupakan asonansi. Pada bait ini digambarkan suasana hati yang ceria setelah “meniti hutan cemara” dengan harapan kegelisahan dan kejenuhan ikut terkubur bersama jejak yang tertinggal.


b.     Bentuk Bahasa Kias dalam Lirik Lagu “Meniti Hutan Cemara”
Bait ke-1
Kata “menyapa” dalam larik “perlahan datang menyapa” mempersonifikasikan kabut, semak-semak, dan tanah sebagai manusia yang bisa menyapa ketika bertemu dengan sesamanya. Kata “menyapa” menunjukkan adanya keselarasan suasana pagi, ditandai adanya kabut yang mendingin dan mengalami proses pengembunan, kemudian turun menjadi embun yang membasahi semak-semak dan tanah di sekitarnya.

Bait ke-2
“Langkah kaki” merupakan sinekdoke pars pro toto. Gaya tersebut digunakan untuk menunjukkan keadaan berjalan yang tentu saja berpusat pada kaki sebagai alat untuk berjalan. Kaki tersebut mengacu pada keseluruhan tubuh manusia.
Metafora tampak pada frase “pandangan hijau” yang mengisyaratkan citra visual terhadap hutan cemara yang didominasi oleh warna hijau.

Bait ke-3
Pada bait ini tampak adanya metafora implisit pada kata “bertarung” dalam larik “setelah lelah bertarung” untuk melukiskan keadaan atau peristiwa yang dialami manusia dalam kehidupan. “Bertarung” di sini bila dihubungkan dengan “dalam kerasnya hidup” dapat diartikan sebagai suatu kompetisi untuk mempertahankan sesuatu, yaitu eksistensi dalam kehidupan yang keras. Metafora lainya tampak pada frasa “kerasnya hidup”. “Hidup” dibandingkan dengan ”keras” untuk membangun keadaan yang “tidak mudah”, keadaan yang mengharuskan untuk berusaha, bertahan, “bertarung”, yang akhirnya menimbulkan rasa “lelah”, sehingga membutuhkan waktu beristirahat sejenak untuk kemudian bertarung kembali.

Bait ke-4
“Jiwaku” adalah sinekdoke pars pro toto sebagai gaya untuk menunjukkan “bagian” dari manusia yang abstrak tetapi sangat berperan dalam “hidup (bait ke-3)”. Kata “jiwaku” mempunyai hubungan secara asosiatif dengan “nurani (bait ke-3)”. “Nurani” dapat diartikan “terang bercahaya”. Kata “nurani” biasanya diawali dengan kata “hati” untuk membentuk kata majemuk “hati nurani” yang berarti hati yang putih, bersih, sehingga mampu memancarkan cahaya. Dapat dikatakan, berpikir dengan akal, “hidup” dengan “jiwa”, dan merasa dengan “hati nurani” adalah ungkapan yang merujuk pada manusia.
Manusia pada suatu saat memerlukan suatu perhentian dalam menjalani hidup. Dalam perhentian itu, manusia membiarkan jiwanya yang “gelisah dan mencari (ketenangan hati nurani)” menyatu dengan alam, seperti dalam larik “wahai alam dekaplah jiwaku”. Terdapat personifikasi dalam larik tersebut, yakni ditandai dengan kata kata “dekaplah” yang menunjukkan bahwa alam layaknya manusia yang mampu mendekap.

Bait ke-5
Pada bait ini ditemukan kembali sinekdoke pars pro toto pada kata “buluh nadi” yang mengacu pada keseluruhan tubuh manusia. Kata “dini” yang mengikuti kata “mentari” digunakan untuk menegaskan suasana pagi hari di mana sinar matahari masih terasa hangat hingga “menyusup buluh nadi”. Penggunaan kata “kabut”, “dingin”, “basah”, “dini” secara temporal mengacu pada “pagi hari”. Hubungan asosiatif kata-kata tersebut disebut kolokasi.

Bait ke-6
Kata “meniti” berarti berjalan dengan perlahan dan hati-hati pada sesuatu (jalan, jembatan, tali, dsb) yang memiliki permukaan atau bidang alas yang kecil atau sempit. Larik “meniti hutan cemara” terkandung metafora implisit yang terpusat pada kata “meniti”. Hutan cemara diumpamakan sebagai sebuah titian. Pengumpamaan tersebut berhubungan dengan bentuk dan ciri fisik pohon cemara. Cemara adalah pohon yang berbatang tinggi, lurus, dengan daun kecil-kecil, pada dahan yang kecil pula.

Bait ke-7
Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Gaya bahasa ini tampak pada “Sepintas jejak tertinggal, dalam lumpur terkubur”. Dalam hal ini yang terkubur bukanlah “lumpur”, tetapi “jejak”.



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑