Cindaku (Cerpen Yupnical Saketi)

Setelah sekian lama berusaha menyadarkan lelaki yang pingsan di hadapannya, akhirnya lelaki kekar setengah tua yang berpenampilan seperti dukun itu, terpaksa harus menghentikan usahanya. Wajahnya yang hampir tetutup brewok, jenggot, kumis dan rambut gondrong ikalnya yang telah mulai ubanan, nampak merah meranggas. Tangannya yang kekar dan beberapa bagian anggota tubuh lainnya nampak bergetar seakan sudah habis terkuras tenaganya. Dan seperti kepayahan ia berusaha menghempas napas satu-satu. Matanya memang masih terpejam ini berarti ia masih dalam meditasinya, tapi mulutnya sudah tidak komat-kamit lagi. Dupa menyan di hadapannya pun telah padam, tidak lagi menebarkan aroma yang sangat menusuk hidungnya dan menyentuh kedalaman jiwa itu.

Sementara di hadapannya, lelaki yang menjadi pasiennya masih tergeletak tak sadar apa-apa. Wajahnya pucat seperti kain kapan, tubuhnya dingin laksana batu es. Detak nadi lelaki itu masih berdenyut menandakan ia masih hidup.


"Kondisi nak Saketi ini sungguh menggenaskan, ia telah berkelahi dengan penguasa kegaiban dalam dirinya sendiri, dan ini bukanlah atas kemauan dirinya" Lelaki kekar itu bicara sembari mengenakan kembali baju hitamnnya. Sementara tiga orang lelaki muda yang sedari tadi khidmat mengikuti jalannya prosesi pengobatan, nampak bingung tak mengerti dengan apa yang diucapkan dukun bertubuh kekar itu barusan. "

Maksud Datuk...kami masih belum mengerti...?" Ujar salah seorang yang di bagian dad kanan seragam tugasnya tertulis nama Amri Swarta. Ia berucap sambil melempar pandang ketak mengertian dengan kedua orang kawannya yang lain. sang dukun hanya tersenyum ringan sebelum ia berbalik menghadap mereka, dan berucap.

"Makhluk yang kalian lihat berkelahi dengan nak Saketi ini tadi pagi, adalah penguasa kegaiban rimba TNKS. Dia merasa tersinggung oleh kalian dan perusahaan kalian yang telah melangkahi perjanjian Garis Tanah, dia merasa telah kalian khianati" Dukun itu mencoba menjelaskan, namun nampaknya inipun tidak dapat masuk ke akal ketiga orang tersebut. Malah mereka nampa semakin bingung, tak mengerti. Melihat itu barulah sang dukun menyadari letak mengertian lawan bicaranya.

"Hmmm... maaf, adakah di antar kalian yang berasal dari tanah alam sakti ini ?" Tanya sang dukun menyelidik.

"Cuma Saketi itulah yang asli berasal dari Kerinci di antara kami" Amri juga yang memberikan jawaban.

"Pantas kalian tidak mengerti, dan pantas nak Saketi ini tidak dibunuh oleh makluk itu dalam perkelahian tadi" Dukan itu bergumam pelan seperti jalannya waktu.

"Anakku, bapak pikir perlu memberi tahu kalian, bahwasanya di bumi sakti ini tumbuh suatu kepercayaan magis spritual tentang hubungan bathin manusia dengan harimau, sehingganya kemudian tidak mengherankan di tengah masyarakat Kerinci ada pula yang berkeyakinan kalau nenek moyang mereka adalah harimau. Ini tidak terlepas dari legenda yang berkembang di mana di sebutkan dahulu Tingkas nenek moyang orang Kerinci telah menjalin hubungan dengan harimau, dan dalam hubungan itulah terbentuk perjanjian yang membatasi dan mengatur hubungan manusia dengan alam terutama hutan rimba. Perjanjian itulah yang mengontrol nafsu masing-masingnya sehingga tidak sampai memakan wilayah satu sama lainnya. Hutan rimba adalah wilayah hunian harimau. Tingkas dan anak cucunya tidak boleh merampas hak itu. Sementara kampung dan kota adalah wilayah manusia, harimau pun tidak akan pernah berani berkuasa atau menunjukkan kebuasannya di sini."

"Perjanjian itulah yang disebut perjanjian garis tanah, yang berlaku selama ranting mati yang ditanam di tanah waktu itu tidak tumbuh berdaun apalagi berbunga. Ini berarti ini berarti perjanjian itu akan berlaku selama-lamanya, karena ranting mati yang di tanam itu mustahil akan hidup dan tumbuh seumur-umur dunia" Panjang lebar dukun itu mencoba menjelaskan apa yang menjadi kabut kelam bagi para lelaki muda dihadapannya, sehingganya tidak memahami batas-batas alam metafisika di bumi sakti ini. Ketiga lelaki itu khidmat mengikuti semua keterangan, tergambar dari sikap mereka yang mengangguk-angguk, entah mulai paham entah masih bingung.

"O ya, Datuk rasanya perlu berbicara dengan orang yang mengetahui secara lengkap kejadian ini dari awal sampai akhir. Apakah ada di antara kalian yang bisa bercerita lengkap seperti itu ?" Dukun setengah tua itu berkata sambil memeriksa kembali keadaan Saketi yang masih belum siuman juga. Ketiga orang laki-laki yang ada dalam ruangan pondok kecil berdinding pelupuh ini kembali saling pandang, sembari berusaha keras mengingat.

"Bos kami, Martias, adalah orang yang datuk perlukan. Tapi beliau telah tewas" Malaka yang duduk di sebelah Amri yang memberikan jawaban.

"...Tapi masih ada satu orang lagi yang masih hidup!" yang bernama Syahdunir yang memberikan pemikiran alternatif.

"Siapa dia ?!" hampir bersamaan Datuk dan dua orang lainnya bertanya balik.

"...Dia adalah juru masak proyek, orang kepercayaan bos Martias dan Saketi. Namanya Laeti...!" Berseri-seri air muka datuk dukun dan yang lainnya mendengar itu.

"Lalu dimana dia sekarang ?" Tanya sang dukun antusias.

"...ada Tuk, dia tengah bersama penduduk mengurus jenazah-jenazah para pekerja yang tewas. Sayan akan memanggilnya Tuk..." Tanpa menunggu perintah lelaki itu segera keluar meninggalkan ruangan pengobatan itu. Sementara datuk dukun bersama yang lainnya tinggal disitu dengan kecamuk pikirannya masing-masing yang sangat sulit dibahasakan.

"Untung dada nak Saketi ini tidak sampai menyentuh tanah..." Gumam sang dukun hampir tak terdengar.

" Memangnya kenapa Tuk, kalau sampai menyentuh tanah ?" Tanya Malaka.

"...Karena kalau sampai menyentuh tanah maka wujud nak Saketi inipun akan berubah jadi harimau pula. Sebenarnya dia sudah tahu lawan yang dihadapinya itu adalah adalah salah satu sisi dari dirinya sendiri, eksistensi kehidupannya sebagai manusia yang terlahir dari tanah Kerinci. Dan rupanya makluk makluk berwujud setengah harimau setengah manusia yang disebut cindaku itu, juga cukup menyadari akan hal ini..."

"Apakah ini berarti datuk bermaksud mengatakan Saketi ini pun adalah seorang Cindaku?" Tanya Malaka.

"Tidak juga, Datuk cuma ingin mengatakan kalau nak Saketi ini mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan harimau. Itu bisa Datuk ketahui dari dua pisung anak rambut di tengkuknya, bola matanya, bulu-bulu di setiap porinya, dan juga aliran darahnya yang bisa Datuk rasakan" Kedua lelaki itu mengangguk-angguk mendengar penjelasan dukun yang kedengarannya sangat supranaturalis itu. Untuk beberapa saat keheningan kembali menjaraki mereka, sehingga suasana di dalam ruangan tiga kali tiga meter itu semakin mencekam.

Tiba-tiba pintu dibuka, ternyata Syahdunir bersama Laeti yang datang. Setelah sedikit basa-basi memperkenalkan diri, maka mulailah lelaki yang setengah banci itu bercerita, memaparkan sebagian perjalanan hidupnya bersama perusahaan Martias dan juga Saketi.

Ketika pemerintah daerah memprogramkan pembangunan ruas jalan lintas Muaro Bungo-Kerinci, melewati hutan rimba TNKS tembus di Renah Pemetik. Sejak itulah Martias dan perusahaannya berusaha keras merebut tender itu. Observasi pertama mereka ke lokasi, rombongan mereka berjumlah mereka. Tapi ketika akan kembali saat itulah ketahuan kalau salah seorang anggota rombongan sudah tidak ada lagi. Dan ketika dicari oleh petugas SAR dan Polisi Kehutanan tubuh anggota rombongan yang menghilang tersebut sudah dalam keadaan yang sangat menggenaskan dan hampir tidak dikenali. Sekujur tubuhnya seperti sudah dicabik-cabik binatang buas. Menurut penduduk ia telah dimangsa oleh harimau si raja hutan.

Niat pak Martias untuk memenangkan tender ternyata tidak surut sedikitpun oleh kejadian itu, malah sebaliknya ia semakin ambisius dan penuh dendam. Saran Saketi untuk membatalkan rencana, tidak digubris sama sekali, dan pada waktu itulah Laeti melihat muka Saketi yang tengah menahan geram ditumbuhi oleh bulu-bulu kasar bercorak kuning kecoklatan. Tapi peristiwa itu tidak berlangsung lama sehingganya tidak ada orang lain yang dapat menyaksikannya kecuali Laeti dengan tatapan mata melotot dan bibir bergetar dingin tak mampu bicara sepatah kata pun.

Setelah kejadian tragis itu, para devoloper raksasa yang sebelumnya berusaha merebut tender akhirnya satu per satu undur diri hingga akhirnya perusahaan Martias pun memenangkan tender dengan mulus, hampir tanpa saingan yang berarti.

Pemerintah pun rupanya menganggap kejadian tragis yang sempat menimpa rombongan observer perusahaan Martias itu hanyalah sebuah kecelakaan ringan yang tak perlu dirisaukan. Tidak ada yang menanggapi serius kejadian itu. Hanya Saketi lah satu-satunya yang menganggap sebagai sesuatu yang sangat serius dan perlu disikapi dengan kebijakan nurani.

Rencana harus tetap dijalankan. Pada tahap observasi kedua yang sekaligus pembukaan jalur, kejadian tragis itu kembali menimpa anggota rombongan, dan kali ini dua orang sekaligus yang jadi korban. Satu dari pihak polisi hutan dan satu lagi dari PU. Kejadiannya persis sama dengan yang sebelumnya, tragis dan misterius. Tapi Martias tetap tidak terpengaruh sedikit pun, malah ia semakin keras dan terkesan diktator. Saketi tidak bisa berbuat banyak untuk menyadarkan bosnya karena ia begitu sadar akan kapasitasnya di dalam perusahaan raksasa itu. Ketika pembangunan sudah dimulai maka setiap saatnya para buruh dan staf senantiasa di terror oleh auman dan geraman harimau yang entah datang dari mana. Pada hari pertama jatuh satu korban. Ini sempat membuat nyali para buruh dan ciut. Saketi mulai menyelidik dengan pisik dan bakat paranormalnya, namun ia tidak berhasil menemukan apa-apa. Sementara terror masih saja berkelanjutan. Pada hari ketiga jatuh lagi satu korban, sementara pembangunan sudah semakin jauh masuk ke dalam hutan. Dan pada hari kelima jatuh lagi satu korban. Para buruh semakin gempar dan geger mentalnya. Seakan telah jadi satu hukum kepastian dalam selang waktu dua hari maka hutan ini menuntut tumbal, nyawa manusia. Pertanyaan-pertanyaan siapa yang akan jadi korban berikutnya senantiasa menghantui benak mereka. Sementara Martias dan pemerintah tidak juga menghentikan proyek raksasa berdarah ini. obsesi sudah terlalu besar menguasai menguasai diri mereka. Martias terobsesi untuk menciptakan prestasi terbesar dalam sejarah perjalanan karir hidupnya sebagai developer. Pemerintah terobsesi untuk merubah nasib rakyat Kerinci yang menurut mereka terbelakang akibat terkurung bingkai Bukit Barisan itu. Pada hari keenam datanglah menemui mereka seorang misterius, berpenampilan ganjil. Ia memakai caping lebar dan jubah panjang dari kulit kayu yang sudah sangat kumal. Jalannya sedikit bungkuk, dan kakinya nampak bergetar ketika melangkah. Wajah orang itu tidak jelas nampak karena caping, cuma bagian hidung, mulut dan dagunya yang kelihatan, itu pun sudah diserabuti kumis, jenggot dan brewok merah kecoklatan. Dan jika diamati dengan seksama maka tidak nampak ada parit kecil antar hidung dan bibir atasnya, dia sepertinya sumbing. Orang misterius itu memperkenalkan dirinya sebagai seorang tua pencari madu lebah liar di hutan. Kehadirannya di tempat itu jelas sekali untuk mengingatkan mereka, lebih tepat di sebut sebagai ancaman. "Hentikanlah rencana ini anak-anakku, karena kalau tidak penguasa hutan ini akan benar-benar marah pada kalian". Katanya pada waktu itu. "Tapi kek, pembangunan jalan ini adalah usaha pemerintah untuk membuka keterpencilan yang mengurung masyarakat Kerinci terhadap dunia luar, sehingganya nanti mereka bisa lebih maju untuk membangun dirinya". Bos Martias berusaha melontarkan alasannya. "Tidak anakku, orang-orang Kerinci belumlah siap dengan semua itu. Pembukaan jalan ini malah bisa menjadi bumerang, dan membawa bencana seperti pintu bendungan yang akan menghantarkan air bah kepada mereka, dan ini bisa menghanyutkan atau menenggelamkan mereka dalam arus dunia yang ganas seperti sekarang ini. mental Orang-orang Keinci belum dewasa, dalam menilai sesuatu mereka masih tergantung pada standar-standar kebendaan dan kesempatan. Mereka belum mampu melakukan petualangan spritual sebelum memutuskan untuk memakai atau memakan sesuatu yang nampak di depan matanya". "Naluri mereka belum mampu atau belum bisa digunakan untuk mengontrol nafsu duniawinya, bahkan pikiran mereka masih terlalu sering liar, sehingganya tidak mustahil setelah dibukanya jalan ini lima tahun mendatang orang-orang Kerinci akan banyak yang menjadi harimau buas, lebih buas dari harimau di hutan. Mereka akan memakan apa saja, termasuk akan hutan, tanah, gedung-gedung, gunung, sawah, sungai dan bahkan juga akan saling memakan sesamanya, dan akhirnya Kerinci pun akan jadi neraka. Jadi kakek sarankan hentikan pembangunan jalan ini". akhirnya kakek itu menutup ceritanya yang panjang, cerita yang sempat membuat orang yang mendengarnya menggidik ngeri oleh bayangan halusinasi yang diciptakannya sendiri. Bos Martias ternyaa tidak mengindahkan peringatan itu. Setelah sang kakek misterius berlalu, pekerjaan kembali dilanjutkan. Traktor dan buldozer masih menggasak bukit, sinsou masih terus meraung merobohkan pohon-pohon raksasa, semua harus terus bekerja, cuma Saketi yang sikapnya semakin berubah kaku dan sering melamun sendiri. "Kakek misterius itu adalah cindaku". Ujarnya ketika Laeti bertanya padanya. "Dari mana abang tahu ?. tanya Laeti lagi seakan tak percaya. "Dari tindak-tanduknya yang ganjil" jawab Saketi singkat. "Kalau begitu ia serius dengan peringatannya itu bang ?" .tanya Laeti cemas. "Ya, tapi bos tidak peduli. Ia sudah dibutakan oleh ambisinya, dan inilah yang akan menjadi sumber kehancuran kita, karena cindaku itu sangat memerangi kesombongan, kecongkakan dan ketamakan manusia". "Lalu kita harus bagaimana bang ?. tanya Laeti lagi. "Kita lihat saat apa yang akan terjadi besok, hari ketujuh kita dengan ambisi api di hutan ini. Kusarankan kau besok jangan keluar tenda. Firasatku mengatakan besok akan terjadi sesuatu yang sangat luar biasa diluar dugaan kita". Saketi menutup pembicaraannya, lalu berlalu meninggalkan Laeti dan malam yang mencekam. Sementara di dalam beberapa tenda masih terdengar ada pekerja yang bermain gitar dan bernyanyi menghibur diri sekedar untuk menghalau ketegangan diri sendiri. Paginya terjadilah apa yang diperkirakan Saketi semalam. Kira-kira jam sembilan ketika pekerja belumlah lama memulai pekerjaannya lagi tida-tiba dari arah dalam hutan di sekitar mereka menggema auman yang sangat ramai dan riuh. Semua pekerja tersentak, terpaku ditempatnya sendiri-sendiri menghentikan pekerjaannya masing-masing. Mesin-mesin traktor, buldozer, sinsou dan peralatan berat lainnya mendadak mati seketika. Semua yang ada disitu jadi pucat, pias, tak mampu berkata apa-apa. Apalagi ketiak mereka mendapati puluhan harimau bermunculan dari balik-balik belukar di sekitar mereka sembari mengaum dan menggeram penuh kebencian, permusuhan dan dendam. Harimau-harimau itu bergerak perlahan mengepung rapat para pekerja yang masih dalam ketakutan dan ketak mengertiannya. Tubuh-tubuh mereka menggil seperti terserang malaria. Dan ketiak harimau-harimau yang mengepung itu meloncat dan menerkam satu-persatu para pekerja, maka terdengarlah teriakan-teriakan histeris meregang nyawa diantara auman puluhan harimau yang menggidikkan. Mendengar teriakan itu Bos Martias yang saat itu tengah bersantai menikmati kopi di dalam tendanya segera saja meraih senapan dan berlari ke lokasi perkejaan. Sesampainya di situ, alangkah terkejutnya ia ketika melihat hampir separuh pekerjanya telah menemui ajal dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Sementara yang lain berlarian menyelamatkan diri dari buruan hariamu-harimau yang sepertinya kerasukan itu. Dan sebagian lagi yang berhasil kena terkam langsung saja tubuhnya dicabik-cabik oleh cakar dan taring harimau itu. Darah dari tubuh yang terkoyak mancur mengiringi pekik pekik kematian orang tersebut. Menyaksikan ini, hati Bos Martias benar-benar meringgis bercampur amarah. Segera ia membabi buta menembakkan senapannya ke tubuh-tubuh harimau yang kesetanan itu. Enam ekor sudah harimau itu rubuh ke tanah dihantam peluru-peluru panas yang dimuntahkan moncong senapannya. Dan ketika ia hendak menembak harimau yang ketujuh, sekonyong-konyong sebuah auman yang lebih dahsyat menggema tidak jauh dari samping kirinya. Reflek lelaki itu berbalik mengarahkan senapannya ke sumber suara. Tapi alangkah ia terkejutnya, sampai-sampai tersurut beberapa tindak mendapati pelurunya ternyata tidak melukai tubuh binatang itu. Harimau itu kembali mengaum sebelum kemudian ia berdiri tegak seperti manusia mendekatinya. "Aum,......sudah kuperinatkan kau manusia, tapi dasar memang kau bernafsu binatang, di kepalamu cuma ada ambisi, karenanya saat ini aku harus harus mengoyak kepalamu itu....aum.........". Ternyata harimau yang satu ini bisa bicara, Martias tertegun, senapan di tangannya terlepas, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya karena memang perawakan harimau ini ternyata lebih mirip manusia ketimbang harimau lainnya. "Cin.......cin.....daku.......". Gumamnya terbata dalam nada ketakutan yan luar biasa. "Aum..........aku memang cindaku, tetapi kau lebih dari cindaku, aum......". Jawab makhluk ganjil itu sebelum ia meloncat menerkam tubuh Martias yang tambun seperti karung beras itu. Terjadilah pergumulan hebat, sampai pada suatu ketika jerit kematian Martias melengking mencabik angkasa, meningkahi geraman cindaku yang mengunyah tenkorak belakang kepalanya. Seketika itu tiba-tiba satu melayang ringan di udara menghantam rusuk cindaku dengan sebuah tendangan kilat. Harimau itu terguling dan menggeram sebelum kemudia ia bangkit dan menantang. "Aum......anak muda, aku sudah menyelesaikan urusanku, menjaga garis tanah. Dan sekarang adalah urusanmu membenahi sumpah dan janji nenek moyangmu yang sempat diingkari kaummu ini. Aum....". cindaku berbicara tenang seakan mengenal pemuda yang ternyata adalah Saketi itu. Ia baru muncul karena ketika terjadi perstiwa tadi ia tengah berada di kali membersihkan badannya. "Tidak, bagaimanapun juga kau telah menghakimi kaumku dengan keji dan brutal sekali, kau harus bertanggung jawab dan menebus kematian orang-orangku itu". Selesai berucap Saketi langsung saja menyerang cindaku bertubi-tubi. Tapi rupanya ilmu silat Saketi belum apa-apa, belum mampu menyentuh sedikitpun tubuh berbulu itu. Dan bahkan suatu ketika ia berhasil diguling oleh makhluk menyeramkan itu. Dalam sekejap ia sudah tertindih, tak bisa bergerak di bawah kuncian kaki dan tangan cindaku. "Aum ......dasar manusia, tidak pernah mau tahu siapa yang semestinya dibela....". Makhluk itu secepat kilat sudah membuat pemuda itu tak sadarkan diri lagi. Mendapati kenyataan itu semua pekerja yang berhasil selamat serentak berteriak ngeri menyebut nama Saketi, dan secara kebetulan pula penduduk desa terdekat nampak tengah berlarian menuju mereka. Cindaku dan para harimau lainnya seperti tidak mau mencari urusan, segera saja melompat ke dalam hutan dan menghilang meninggalkan aumannya. Para pekerja yang selamat dan penduduk desa bergegas menolong Saketi beserta puluhan korban lainnya. Diantara yang selamat itu nampak Laeti yang masih ketakutan. Begitulah cerita yang dituturkan Laeti kepada datuk dukun. Semua yang mendengarkan nampak hikmat sambil mengangguk-anggukkan kepala. suasana hening kembali mengisi ruang perdukunan itu. Masing-masing mereka sepertiya masih larut dalam kisah tragis tadi. Tiba-tiba suasana hening itu dipecahkan oleh erangan Saketi yang mulai siuman. Semua yang berada di situ bergegas mengerumuninya sembari memanggil dan menggerakkan tubuh lelaki muda itu, namun sepertinya Saketi belum sepenuhnya sadarkan diri. Ia kembali mengerang dan barulah mereka menyadari ternyata erangan itu bukanlah suara Saketi asli. Keempat lelaki kecuali datuk dukun, nampak heran bertanya-tanya dalam hati, tak sepatah katapun meluncur dari mulut mereka, seakan semua tertahan di kerongkongan. "Nak Saketi, ternyata baru hari ini memasakkan ilmu batinnya, dan ini berjalan secara alami". Ujar dukun memberitahukan. Para lelaki itu masih belum mengerti dan tetap tak mengerti sampai ketika erangan kembali terdengar. Kali ini lebih mirip erangan seekor harimau. Tiba-tiba mata saketi terbuka menikam langit-langit dan alangkah kagetnya keempat lelaki itu menyaksikan mata Saketi, ternyata telah berubah jadi hijau dan tajam sekali. Dan semakin terkejut mereka ketika di tubuh Saketi bermunculan bulu-bulu kasar bercorak loreng. Terus tumbuh sampai akhir menutupi tubuh lelaki muda itu. Tiba-tiba lelaki itu bangkit sembari mengaum, keempat kawannya tersurut ke sudut ruangan, bergitu juga dengan datuk dukun. Tak satupun diantara mereka mampu mengeluarkan suara. Semua merasa kerongkongannya tercekat, seakan baru menelan biji kedondong. Mereka begitu mencemaskan keadaan Saketi yang telah jadi cindaku. Saketi sudah berdiri dengan tatapan yang menggetarkan jiwa. Perlahan ia melangkah menuju pintu, dan dari situ ia melompat ke bawah terus berlari ke arah hutan sambil mengaum panjang. Ketika para sahabatnya hendak menyongsong, datuk dukun mencegat. "Jangan susul dia anakku, dia pergi cuma untuk membenahi garis tanah yang sempat rusak itu". Ujar dukun itu. Tidak ada yang berani membantah, meski hati kecil mereka masih berharap-harap cemas akan keadaan sahabat sekaligus pimpinan terbaik mereka itu. Setelah beberapa lama mondar-mandir menunggu dengan perasaan gelisah tak menentu, barulah dari arah tepi hutan sebelah barat mereka melihat seorang lelaki berkemeja putih yang compang-camping tengah berjalan ke arah mereka. Wajah lelaki itu jelas sekali menunjukkan kelegaan. Para sahabat yang sedari tadi gelisah menunggu di halamn rumh datuk dukun serentak bangkit dan berlari menyongsong lelaki itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan. "Saketi, ...........!!!" panggil mereka. Datuk dukun sempat sunggingkan senyum sebelum sesaat kemudian Ia dan juga pondoknya menghilang seperti ditelan angin bersama senyumannya yang sumringah. Keempat pemuda itu kembali terkaget menyaksikan peristiwa itu, cuma Saketi yang kelihatannya biasa-biasa saja. "Saketi, siapa menurutmu datuk dukun yang telah menolongmu tadi ?". Tanya Malaka heran. "Hmmm, kalian tidak perlu heran. Kakek itu adalah jelmaan Tingkas, nenek moyang orang Kerinci". Singkat sekali jawaban Saketi, namun sudah cukup membuat para sahabatnya terlonjak tak percaya seperti melihat hantu saja. *** Komsat Cindaku, 3 Oktober 2000. Yupnical Saketi lahir di Kerinci, 15 Juni 1976. Alumnus B. Inggris FKIP Universitas Jambi. Aktif di kesenian khususnya sastra dan teater semenjak enam tahun silam. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esey seni dan budaya termuat di HU Jambi Independent, Jambi Ekspress (jambi), Sriwijaya Post (Palembang). Tabloid Suara Kalangan, Pelopor, dan Majalah Pijar (Jambi). Semasa di Kampus adalah pendiri Teater Oranye UNJA dan Komunitas Sastra dan Teater FKIP. Dan terakhir mendirikan dan direktur Teater Cindaku Jambi yang berbentuk LSM.



Ardhiansyam | Find us on Google+ | Kontak | Follower? klik di sini | Sitemap | Versi Mobile | ke atas ↑